
Menurutnya, ada beberapa hal yang menyebabkan satwa dilindungi itu masuk ke perkebunan warga. Salah satunya adalah karena habitat asli satwa tersebut sudah hilang. Hal itu disebabkan oleh izin berlebihan yang diberikan pemerintah kepada korporasi, baik perizinan perkebunan maupun kehutanan.
"Ditambah lagi eksodus besar-besaran masyarakat untuk berkebun, ini kan membuat persoalan yang rumit," kata dia.
Dengan kondisi ini, sambungnya, perlu pemantauan kembali apakah kantong-kantong yang disebut menjadi habitat asli satwa-satwa dilindungi itu masih berupa hutan atau bahkan sudah beralih fungsi menjadi perkebunan.
"Kalau memang lahan itu masih hutan, otomatis mereka akan bisa hidup di sana. Tapi kan keadaannya sekarang, satwa-satwa itu sampai masuk ke kebun rakyat," ujarnya.
Dia juga menyoroti, penyebab lain yang membuat satwa-satwa dilindungi itu masuk ke kebun rakyat bukan kebun korporasi.
"Kenapa sasarannya selalu kebun rakyat? Bisa jadi karena kalau kebun korporasi sekuritinya ada, ada parit gajah, ada juga yang di kanal. Sedangkan kebun rakyat kan tidak ada yang menjaga, tidak ada pembatas yang menghalangi satwa masuk ke sana. Makannya selalu kebun rakyat yang menjadi sasaran," ungkap dia.
Saat ini, kata Aziz, petani harus waspada. Karena berada di level paling bawah dengan keterbatasan sistem pengamanan, petani harus bisa menjaga diri sendiri.
"Sebenarnya ini solusi pasrah saja. Karena kalau petani bawa bedil, kemudian bertemu satwa itu dan dibedil, nanti petani yang kena pidana. Sementara kalau tidak dibedil kita yang dimangsa," ujarnya.
"Jadi solusinya ya itu, pertama kita lihat cuaca. Kalau cuaca misalnya agak sejuk, sebisanya jangan berkeliaran di kebun. Karena biasanya kalau cuaca dingin, makhluk hidup itu gampang lapar dan mencari mangsa. Kedua kalau ke kebun jangan sendiri, sehingga bisa saling memantau," imbaunya.
from "buat" - Google Berita https://ift.tt/6DbwAGS
via IFTTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar