parade bhineka tunggal ika. ©2016 merdeka.com/imam buhoriMerdeka.com - Rangkaian peringatan Paskah bertepatan dengan Ramadan. Dua peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bagi kedua umat untuk terus memupuk toleransi. Membuang jauh-jauh arogansi beragama.
"Bagaimana kita membangun semangat saling toleransi. Momen ini kita upayakan mengontrol arogansi, egosentrisme, mengontrol diri menjadi lebih baik," ujar Sekretaris Eksekutif Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) Jimmy Sormin dalam keterangannya, Kamis (14/4).
Untuk membangun itu, Jimmy mengatakan perlu kesungguhan dari setiap individu yang hidup di tengah keberagaman. Hal itu harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Sehingga perdamaian dan kerukunan bukan hanya sebuah kamuflase, namun tertanam dalam karakter dan keseharian umat," tuturnya.
Jimmy menilai perlu adanya peran dari pemerintah, masyarakat serta tokoh agama untuk terus menjaga kerukunan umat. Dengan begitu mata rantai kebencian atau segala arogansi bisa diputus.
"Toleransi bukan hanya seremonial di hadapan publik, tapi harus dalam keseharian kita," harapnya.
Jimmy berharap segenap umat beragama bersama-sama membangun tatanan kehidupan yang berkeadaban. Peristiwa Ramadan dan Paskah dapat mengajarkan agar cara berpikir lebih maju ke depan.
"Marilah kita mengambil momentum ini untuk saling membangun, berbagi, berkolaborasi, menyumbangkan, mengkontribusikan energi positif untuk kemaslahatan," jelasnya.
Jimmy yakin jika kedamaian antar-umat tercapai akan berdampak positif untuk kemajuan bangsa. Dia tidak ingin perbedaan yang ada justru menimbulkan permusuhan.
"Ketika kita bisa hidup rukun dan damai maka berdampak pada kesejahteraan dan kemajuan bangsa," tandasnya.
[did]Komentar Pembaca
from "buat" - Google Berita https://ift.tt/Hy5lwoi
via IFTTT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar